"Kita semua tahu, menjalin hubungan itu tidak selamanya mudah. Terkadang malah harus menemui masalah, faktornya bisa jadi internal maupun eksternal. Untuk berkontak misalkan, begitu sulit, terhambat. Karena mungkin prioritas kedua belah pihak memang berbeda." -Naw-
Kutipan di atas adalah kalimat dimana secara tak sengaja kubuat di kolom keterangan foto sesaat sebelum mengunggah foto bersama ke enam sahabatku. Dan entah mengapa saat ini aku sering sekali terbayang-bayang dengan kutipan yang aku buat sendiri. Tepatnya, saat aku teringat akan sulitnya menjalin hubungan -terutama hubungan yang amat erat- dengan orang sekitar.
Seringkali aku termenung, terutama saat hujan turun. Kutatapi jendela, sambil menyeduh segelas kopi hangat. Sebenarnya banyak yang dapat dilihat dari peristiwa hujan. Pertama, air yang turun saling mengejar satu sama lain. Seolah-olah takut tertinggal dengan kawanannya. Melihat kompaknya mereka, aku jadi teringat lagi akan bayang-bayang hubungan.
Begitu juga saat belajar di kelas, mengenai korelasi dalam regresi linear. Dimana disitu dibahas mengenai hubungan antar variabel. Baik dari kuat-tidaknya hubungan, arah hubungan (positif maupun negatif), sampai ke seberapa besar variabel bebas memengaruhi variabel tak bebas.
Hal demikian pun membuat aku teringat akan hubungan dengan manusia lainnya.
Terkadang kita semua -lebih tepatnya bukan cuma aku- berpikir, begitu banyak orang yang kita temui di dunia ini, begitu banyak orang yang kita kenal-hanya sekadar kenal-, begitu banyak orang yang kita tahu-hanya sekadar tahu-, tapi apakah mereka semua itu memang berguna dan berarti untuk hidup kita? apakah semua orang tersebut menjalin simbiosis mutualisme dengan kita? apakah semua orang tersebut memiliki hubungan dengan kita? apakah orang-orang itu akan selamanya ada dalam hidup kita sampai waktu memisahkan?
Tentu, kita sudah bisa menebak-nebak secara hampir benar. Bahwasanya semua jawabannya adalah "tidak, tidak semua" . Semakin bertambah umur atau lebih tepatnya semakin kita dewasa, kita akan semakin tersadar bahwa jawaban itu memang benar adanya. Hubungan kita dengan orang lain itu lama-lama akan pudar, kecuali dengan yang benar-benar sejati untuk bertahan. Orang diciptakan untuk datang, orang juga diciptakan untuk pergi. Sama seperti setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Ada yang bilang, apabila kita tiba-tiba bertemu dengan orang di jalan, hal tersebut bukanlah sebuah ketidaksengajaan, tetapi ada alasan di balik pertemuan itu, takdir bisa jadi?
Memang, walaupun semua orang yang kita temui selama kita hidup sampai detik ini dan tidak semuanya akan berhubungan dengan kita sampai akhir, semua orang tersebut tetap memiliki pengaruh dan "memberikan sumbangan sekian persen" dalam hidup kita. Ntah itu dalam pengaruh baik maupun buruk, yang jelas, mereka semua memiliki kesempatan buat hadir dalam hidup kita.
Dengan begitu, sudah sebaiknya kita tetap melakukan perbuatan sebaik yang kita bisa buat semua orang yang memiliki kesempatan untuk hadir di dalam hidup kita, ntah itu berdurasi cepat, secepat gerak angin musim semi, secepat kupu-kupu yang mampir masuk ke rumah kita. Maupun yang datang, dan singgah begitu lama, hingga akhirnya waktu yang memisahkan. Agar orang-orang tersebut saat nantinya berpisah dengan kita memberikan kesan yang baik dan menyenangkan kepada kita. agar mereka nantinya mengingat kita sebagai orang yang berpengaruh baik untuk mereka. Karena siapa tahu, orang-orang tersebut akan datang kembali kepada kita, entah kapan itu.
Tidak peduli orang-orang tersebut memberikan pengaruh seperti apa dalam hidup kita. Tapi ada baiknya untuk tetap memikirkan kondisi kita. Jangan terlalu bertindak gegabah. Jangan terlalu muluk-muluk. Jangan mencintai terlalu dalam dan jangan membenci terlalu lebih.
Ikatlah yang sudah dekat agar semakin dekat. Namun jangan terlalu berlebihan. Karena pada dasarnya sebuat hubungan itu bagaikan grafik logaritma natural, yang tidak akan pernah bisa menyentuh sumbu x meskipun sudah sangat sangat dekat. Tetap ada jarak, meskipun dekat, sedekat jarak antara pori satu ke pori lainnya di kulit kita.
Apabila ikatan tersebut rusak, cobalah perbaiki, sebaik mungkin. Namun apabila tidak memungkinkan, janganlah bersedih. Karena pada dasarnya, people may come and go. Dan itu semua sudah jadi sebuah siklus. Siklus yang akan membentuk pribadi dan mental kita menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Siklus yang membuat kita untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan memilih orang yang akan dijadikan sebagai orang sejati, orang yang akan singgah sangat lama dalam hidup kita.
Dan, kita semua tahu, semakin bertambahnya usia, kita akan semakin tersadar bahwa orang-orang yang dulunya kita anggap akan singgah lama dalam hidup kita, akan pergi juga, dan akan tersisa orang-orang yang secara otomatis sudah terseleksi untuk menjadi rekan hidup kita. Satu rekan hidup sejati akan lebih berarti dibandingkan dengan seribu teman yang mampir untuk sekadar ada lalu pergi.
Begitulah hubungan yang mungkin selama ini banyak dari kita pikirkan. Hubungan apapun itu dan berapa lamapun akan membekas dan membentuk jaring-jaring memori nan indah dan kuat dalam hati dan juga pikiran kita. Jaring-jaring yang membentuk kita menjadi orang kuat, orang tahan banting terhadap situasi apapun. Dan tentunya akan menjadikan kita menjadi orang yang lebih baik lagi.
-Nawang Indah C.-
Komentar
Posting Komentar