"Aku berharap, bisa membangun sebuah tembok besar bersama orang-orang yang aku sayangi, dimana aku dan orang-orang yang aku sayangi itu akan menjadi fondasi dan juga bata-bata kuat. Sehingga tercipta sebuah tembok yang begitu kuat dan rekat tak lekang oleh waktu." -Naw-
Di suatu malam, selepas minggu penuh tenggat waktu pengumpulan tugas, aku bersama seorang sahabatku, Day, pergi untuk makan malam di sebuah tempat makan di Jalan Otista III. Sungguh lega rasanya beban-beban sudah banyak yang berkurang. Sembari makan, kami bercengkerama, membicarakan sesuatu yang biasanya tidak kita bicarakan. Kami membuka sebuah intermezo mengenai apa arti dari hubungan yang sebenarnya.
Kami tersadarkan akan alasan mengapa kami berdua didekatkan. Ya, kami berdua didekatkan karena kami memiliki hobi yang sama, kami memiliki pemikiran yang cenderung selalu hampir sama, dan kami memiliki opini yang hampir serupa mengenai sesuatu, kami saling menerima kekurangan satu sama lain, dan kami saling menghargai apabila terjadi perbedaan pendapat. Disitu saya semakin tersadar bahwasanya, orang-orang didekatkan karena suatu alasan. Tidak akan dekat kedua orang apabila hanya sebuah ketidaksengajaan. Terlebih apabila pandangan kedua belah pihak seperti air dan minyak dalam satu wadah, saling bentrok dan tidak akan bisa menyatu.
Apabila memang unsur 'alasan' bukan jadi penyebab dipersatukannya kedua belah pihak melainkan ketidaksengajaanlah adalah penyebabnya, paling tidak hubungan tersebut akan terasa semu dan membosankan. Bolak-balik harus melewati perdebatan yang tiada akhir dan menyisakan luka di hati masing-masing pihak. Terlebih apabila kedua belah pihak adalah manusia dengan hati yang mudah rapuh. Wah, tidak bisa dibayangkan betapa mirisnya perpisahan kedua manusia itu nanti. Ntah akan berakhir baik-baik saja, atau malah akan terjadi pembangunan dua benteng besar nan kuat di antara keduanya agar tidak dapat bersatu lagi -kecuali takdir yang mengizinkan mereka untuk bersatu kembali- .
Kami juga berbincang mengenai darimana kita menemukan orang-orang yang cocok dengan kita. Kami mengilas balik, tentang pertemuan pertama kami berdua dan pertemuan kami dengan teman-teman kami sekarang. Yang jelas kami bertemu saat ada sebuah relasi. Ya, relasi sebagai teman satu kelompok ospek. Dengan begitu kami berbincang satu sama lain dan saling mengenal lebih dalam.
Relasi tersebut seakan terikat dengan diri kami. Relasi yang mempertemukan kami berdua. Dan apabila dibumbui dengan adanya kesamaan visi dan misi, kesamaan pandangan, akan rekatlah kami berdua menjalin hubungan yang sangat akrab. Dari situ, kami menyimpulkan bahwa seseorang akan memiliki peluang yang lebih besar untuk dapat berkenalan, bercengkerama, berdekatan dengan orang lain apabila terikat dan berada dalam suatu relasi yang luas. Sebuah relasi yang berisi sekerumunan orang dengan pandangan yang sama. Semakin luas dan banyak keterikatan seseorang dengan banyak relasi, akan semakin banyak kesempatan mereka untuk memilih orang-orang yang tepat untuk kehidupan mereka yang lebih baik.
Kami juga membahas sesuatu yang berlawanan dari sebuah perkenalan, yakni adalah perpisahan. Kami berpikir, mengapa banyak orang yang memilih meninggalkan seseorang yang sudah ia kenal lama bahkan sudah akrab dan mengapa banyak orang merasa ditinggalkan. Tak lain dan tak lebih adalah karena sesuatu yang sudah saya bahas di paragraf yang lalu. Ya, karena perbedaan pandangan dan visi. Apabila memang sering terjadi bentrok, sering tersakiti, sering bantah-membantah. Ah, mana mungkin dapat bertahan lebih lama, terkecuali apabila ada pihak yang mau mengalah dan berpikiran luas, apabila kedua belah pihak saling menerima satu sama lain.
Karena hampir semua dari kita saat ini cenderung untuk memilih apa yang terbaik bagi kedua belah pihak, bukan untuk mempertahankan satu sama lain. Jika memang sudah sulit untuk bertahan atau untuk mempertahankan sebuah hubungan, untuk apa dilanjutkan. Daripada nantinya akan merasakan sakit lebih dalam dan lebih lama lagi. Apalagi apabila memang sudah benar-benar tidak dapat bersatu dalam opini, visi, keinginan, kriteria, dsb. Jika dipertahankan malah akan merusak diri kita lebih parah dan rapuh lagi. Perpisahan memang sebagai solusi unique, perpisahan merupakan satu-satunya penyelesaian.
Begitulah akhir dari intermezo kami yang juga merupakan akhir dari makan malam yang begitu rileks. Perbincangan kami kali ini dapat membuka pemikiran kami lebih luas tentang apa yang harus kami lakukan selanjutnya, untuk mendapatkan rekan hidup sejati yang bertahan selamanya.
Kami meminum teh hangat sebagai penutup dari perbincangan makan malam kami, dan menyadari bahwa kami ini memang manusia yang memiliki hati begitu lembut. Begitu lembutnya, sampai kami tidak tersadar bahwa hati bisa rapuh kapan saja. Namun kerapuhan tersebut tidak boleh kami tunjukkan kepada sembarang orang. Kerapuhan tersebut bisa terembunyi di balik senyum yang selama ini kami tunjukkan sebagai pertanda kami baik-baik saja akan hal itu.
Kita hanya bisa berdoa didekatkan kepada orang-orang yang baik dan bisa selamanya bersama, sebagai makhluk hidup lemah bernama manusia yang berhati rapuh dan mudah retak.
-Nawang Indah C.-
Komentar
Posting Komentar